Sabtu, 21 November 2009

Fawatih assuwar wal Khowatim

BAB I

A .Pendahuluan
Segala puji bagi Allah swt yang telah memberikan nikmat kepada kita semua dan shalawat beserta salam senantiasa kita curahkan kehadirat nabi Muhammad saw beserta keluarganya dan sahabat-sahabatnya serta para pengikutnya yang setia pada sunahnya sampai ahkir jaman Amin ya rabbal ‘alamin.
Allah swt menurunkan al-qur’an sebagai petunjuk bagi manusia yang didalamnya menjelaskan segala sesuatu dan tidak akan pernah sesat orang nyang menjadikan nya sebagai pedoman bagi kehidupan sehari-hari.maka seyogianyalah setiap orang islam harus senantiasa mempelajari dan mengkaji apa-apa nyang ada didalamnya karena semakin banyak kita mengkaji al-qur’an maka akan semakin banyak kita menemukan khazanah keilmuan yang ada didalamnya serta hikmah-hikmah nyang belum kita dapat sebelumnya.maka dalam makalah yang singkat ini kami selaku pemakalah akan mencoba menjelaskan sebagian kecil dari ulumul qur’an nyang berkisar tentang fawatih al-suwar ada poin-poin nyang akan kami ketengahkan sebagai berikut:
Ø Pegertian fawatih al-suwar
Ø Macam-macam fawatih al-suwar
Ø Pendapat ulama tentang fawatih al-suwar
Ø Urgensi mempelarari tentang fawatih al-suwar
Dalam makalah yang singkat ini masih banyak terdapat kekurangan itu disebabkan karena keterbatasan kami selaku pemakalah maka kami mohon ma’af serta keritik dan saran sangat kami harapkan dari teman-teman demi untuk perbaikan makalah ini, tidak lupa kami ucapkan banyak terima kasih kepada bpk Drs.H Mursal syah Mag dan ibu Dra H Sarmida hanum Mag sebagai dosen yang telah membimbing kami dalam pembuatan makalah ini.dan akhir dari segalanya kami serahkan kepada Allah swt mudah-mudahan makalah ini dapat bermanpa’at Amin ya rabbal ‘alamin.




BAB II
PEMBAHASAN
A.Pengrtian Fawatih al-Suwar
Secara bahasa, fawatih al-suwar adalah pembukaan-pembukaan surat yang terdapat dalam al-qur’an, karena posisinya terletak diawal surat dalam al-qur’an. Seluruh surat dalam al-qur’an di buka dengan sepuluh macam pembukaan dan tidak ada satu surat pun yang keluar dari sepuluh macam tersebut. Setiap macam pembukaan memiliki rahasia tersendiri sehingga sangat penting untuk kita pelajari.
Diantara pembuka surat itu diawali dengan hurupf-huruf terpisah (al-Ahruf al-Munqata’ah). Dan orang sering mengidentikan dengan fawatih al-suwar. Dan diantara ulama yang mengidentikannya adalah Manna Khalil al-Qathan dalam karya nya ‘‘Mabahis Fi Ulum al-Qur’an’’[1] padahal huruf al-Muqaththa’ah bagian dari fawatih al-suwar.
B. Macam-Macam fawatih al-suwar.
Beberapa ulama telah melakukan penelitian tentang fawatih al-suwar dalam al-Qur’an, diantaranya adalah imam al-Qasthalani, beliau membagi kepada sepuluh macam. Sementara ibnu Abi al-Isba juga telah melakukan penelitian dan beliau membagi kepada lima macam saja. [2] dan dalam pembahasan ini kami akan mengetengahkan pendapat al-Qasthalani : Adapun sepuluh macam menurut beliau adalah:
1.Pembukaan pujian kepada Allah swt.
Pujian kepada Allah ada dua macam yaitu:
a. menetapkan sifat-sifat terpuji (الاءثبات الصفات الماض). Dengan manggunakan lafaz yaitu: 1)memakai lafaz hamdalah yakni dibuka dengan الحمد لله yang terdapat dalam lima surat. [3] 2) memakai lafaz تبارك terdapat dalam dua surat. [4]
b. Mensucikan Allah dari sifat-sifat negatif (تشبح عن صفات نقص) dengan menggunakan lafaz tasbih (يسبح, سبح, سبح, سبحن). Sebagai mana terdapat dalam tujuh surat.[5]


2. Pembukaan dengan panggilan (الا ستفتح بنداء)
Nida disini ada 3 macam, yaitu Nida untuk nabi, misalnya (ياايها النبي) terdapat dalam tiga surat[6]. Nida untuk Mukminin (ياايها الذين امنوا) terdapat tiga surat. Dan Nida untuk manusia (ياايها الناس) terdapat dalam dua surat .
3. Pembukaan dengan huruf-huruf yang terputus (الا ستفتح بالاحرف المنقطعه)
Pembukaan dengan huruf-huruf ini terdapat dalam 29 surat dengan memakai 14 surat tanpa diulang yaitu: ا, ى, ه, ن, م, ل, ق ,ع, ط, ص, س, ر,ح. Penggunaan huruf-huruf di atas dalam fawatih al-Suwar disusun dalam 14 rangkaian, yang terdiri dari beberapa bentuk sebagai berikut:
a. Terdiri dari satu huruf, terdapat dalam tiga surat yakni ص (QS.Shad),ق (QS.Qaf), dan ن (QS, Qalam).
b.Terdiri dari dua huruf, terdapat dalam 10 surat, 7 surat dinamakan Hawamim(surat-surat yang dibuka dengan Hamim), yakni: (QS, Al-Mukmin,Al-fussilat, Al-surra, Al- Zuhruf, Al- Dukhan, Al- Jatsiah, Al- Ahqaf), طه (QS, Taha), طس (QS, Naml) يس (QS, Yasin).
c.Terdiri dari tiga huruf, enam surat dimulai dengan الم yaitu: (QS, Al-Baqarah, Al- Imran, Al-Ankabut, Ar-Rum, Lukman, dan Al-Sajdah), lima surat dimulai denganاالر yaitu: (QS, Yunus, Hud, Ibrahim, Yusuf dan Al-Hijr), dan dua surat dimulai denganطسم yaitu: (QS, Qashash dan Asy-Syuaro).
d..Terdiri dari empat huruf yaitu: المر (QS, Al-Ara’ad) dan المص (QS, Al-A’raf).
e. Terdiri dari lima huruf yaitu: كهيعص (QS, Maryam), dan حم عسق (QS, Al-Syuara).

4. Pembukaan dengan sumpah (الاءتتفناح بقسام)
Terdapat dalam 16 surat dibagi kepada tiga bagian sebagai berikut:
a. Sumpah dengan benda angkasa misalnya: والنجم (QS, An-Nazm), والسماء والطارق (QS, Ath-Thariq), dan lain-lain.
b. Sumpah dengan benda bawah misalnya: والتين (QS, At-Tin), والعديت (QS, Al_’Adiyat), dan lain-lain
c. Sumpah dengan waktu misalnya: والعصر (QS, Al-Ashr), واليل (QS, Al-Lail), dan lain-lain.

5.Pembukaan dengan kalimat (jumlah) Khabariah ada 23 surat dan dibagi dua macam sebagai berikut:
a. Jumlah ismiyah, jumlah ismiyah menjadi pembuka surat yang terdiri dari 11 surat yaitu: براءة من الله ورسوله (QS, At-Taubat), سورة انزلناها وفرضناها (QS, An-Nur).
b. Jumlah fi’liyah, jumlah fi’liyah yang menjadi pembuka surat terdiri dari 12 surat yaitu: يسئلونك عن الانفال (QS, Al-Anfal), قد افلح المؤ منون (QS, Al-Mukminun) dan lain-lain.
6. Pembukaan dengan Syarat (الاءستفتاح با لشرط)
Terdiri dari tujuh surat misalnya اذالشمس كورت (QS, At-Takwir).اذالسماء انفطرت (QS, Al Inpithar) dan lain-lainnya.
7.Pembukaan dengan kata perintah.
Adapun pembukaannya terdiri dari enam surat yaitu: dengan kata اقرا dalam surat Al-Alaq, dan dengan kata قل dalam surat al-Jin, al-Kfirun, al-Falaq, dan al-Annas.
8 Pembukaan dengan pertanyaan.(al-Istiftah bil Istifham).
Bentuk nya ada dua dan terdapat empat surat dalam al-Qur’an. Yaitu:
a. Pertanyaan fositif misalnya: هل اتي علي الانسان (QS. Ad-dahr).
b. Pertanyaan negatif misalnya: الم نشرح لك صدرك (QS, Al-Insyirah).
9. Pembukaan dengan do’a
Ada tiga surat didalam al-Qur’an. Misalnya:ويل للمطففين (QS, Al-Muthaffifin).
10.Pembukaan dengan alasan (al-Istiftah bit-Ta’lil).
Ada satu surat didalam al-Qur’an. Misalnya لايلف قريش (QS. Al-Qurais).
C. Pendapat Ulama Tentang Fawatih al-Suwar.
Para ulama banyak yang membicarakan masalah ini diantara mereka ada yang berani menafsirkan nya, yang mana huruf-huruf itu adalah rahasia yang Allah saja yang mengetahuinya. Ada pun penafsiran ulama itu adalah sebagai berikut:
1.As-Suyuti menukil pendapat ibnu Abbas tentang hurup tersebut adalah sebagai berikut: diantaranya: الم berarti الله اعلم انا yang berarti hanya aku yang paling tahu kemudian المص yang berarti A’lamu wa Afshilu yaitu hanya aku yang paling mengetahui dan yang menjelaskan suatu perkara, sedangkan المر berarti Ana Ara yang berarti aku melihat. Diriwayatkan pula dari Ibnu Abbas bahwa makna كهيعص yaitu Kaf dari kata Karim yang berarti mulia, Ha adalah Hadin yang berarti memberi petunjuk, Ya adalah Hakim yang berarti yang maha bijaksana, Ain yaitu Alim yang berarti yang maha mengetahui, dan Shad yaitu Shadiq yang berarti yang maha Benar.[7]dan sebagainya.Dikatakan bahwa pendapat ini hanyalah dugaan saja. kemudian As-Suyuti menerangkan bahwa hal itu merupakan rahasia yang hanya Allah swt sendiri yang mengetahuinya.[8]
2. Az- Zarkasyi berkata dalam tafsirnya ‘al-Qassyaf tentang huruf-huruf itu bahwa di dalamnya terdapat beberapa pendapat yaitu: merupakan rahasia Allah yang hanya Allah sendiri nyang mengetahuinya. Atau merupakan nama surat, dan sumpah Allah swt dan supaya dapat menarik perhatian orang yang mendengarnya.
3. Al-Quwaibi mengatakan bahwasanya kalimat itu merupakan peringatan bagi nabi, mungkin pada saat itu beliau dalam keadaan sibuk, maka Allah menyuruh Jibril untuk memberikan perhatian terhadap apa yang disampaikan kepadanya.
4. As-sayyid rasyid ridha tidak membenarkan al-quwaibi diatas, karena nabi senantiasa dalam keadaan sadar dan senantiasa menanti kedatangan wahyu. Rasyid ridha berpendapat sesuai dengan ar-Razi bahwa tanbih ini sebenarnya dihadapkan kepada orang-orang musyrik mekkah dan ahli kitab madinah. Karena orang-orang kafir apabila nabi membaca al-Qur’an mereka satu sama lain menganjurkan untuk tidak mendengarkannya, seperti dijelaskan dalam surat fushilat ayat 26.
5. Ulama salaf berpendapat bahwa ‘‘Fawatih al-Suwar’’ telah disusun semenjak jaman azali, yang demikian itu melengkapi segala yang melemahkan manusia dari mendatangkan seperti al-Qur,an.
Oleh karena I’tiqad bahwa huruf-huruf itu telah sedemikian daari azalinya, maka banyaklah orang yang telah berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap huruf-huruf tersebut.[9]
D. Urgensi mempelajari tentang Fawatih as-Suwar
Banyak sekali urgensi yang kita dapat dalam mengkaji Fawatih al-Suwar. Adapun sebagian dari urgensinya sebagai berikut:
Sebagai Tanbih( peringatan ) dan dapat memberikan perhatian baik bagi nabi,maupun umatnya dan dapat menjadi pedoman bagi kehidapan ini.
Sebagai pengetahuan bagi kita yang senantiasa mengkajinya bahwa dalam fawatih as-suwar banyak sekali hal-hal yang mengandung rahasia-rahasia Allah yang kita tidak dapat mengetahuinya.
Sebagai motivasi untuk selalu mancari ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah swt. Dengan cara beriman dan beramal shaleh dan menambah keyakinan kita bahwa al-Qur’an itu adalah benar-benar kalam Allah swt.
Untuk menghilangkan keraguan terhadap al-Qur,an terutama bagi kaum mislimin yang masih lemah imannya karena sangat mudah terpengaruh oleh perkataan musuh-musuh islam yang mengatakan bahwa al-qur’an itu adalah buatan Muhammad. dengan mengkaji Fawatih al-Suwar kita akan merasakan terhadap keindahan bahasa al-Qur’an itu sendiri bahwa al-Qur’an itu datang dari Allah swt.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat kami ambil dari makalah ini adalah :
Ø Fawatih as-suwar adalah pembuka-pembuka surat, karena posisinya di awal surat dalam al-quran menurut al-Qasthalani seluruh surat dalam al-quran dibuka dengan sepuluh macam pembukaan dan tidak ada satu surat pun yang keluar dari sepuluh macam tersebut, sedangkan menurut Ibnu abi al-Isba’ hanya lima macam saja
Ø Para ulama berpendapat bahwa huruf-huruf fawatih as-suwar itu secara umum telah sedemikian azali maka banyak ulama yang tidak berani menafsirkannya dan tidak berani mengeluarkan pendapat yang tegas terhadap makna huruf-huruf tersebut.
Ø Adapun urgensi mempelajari fawatih as-suwar itu secara pokok adalah bagaimana supaya bertambah keimanan kita dan keyakinan kita terhadap kebenaran ayat-ayat Allah swt. Dan menjadi pedoman dalam kehidupan kita.

B. Khawatim al-Suwar
Sebagaimana pembuka surat, penutup surat pun memiliki keindahan tertentu. Alasannya, penutup surat merupakan akhir kesan yang didengar (dibaca) dari surat yang bersangkutan. Oleh karena itu, penutup surat memuat kandungan yang sarat dengan makna.

1. Pengertian
Khawatim merupakan bentuk jamak dari kata khatimah, yang berarti penutup atau penghabisan. Secara bahasa, khawatim al-suwar berarti penutup surat-surat Al Qur’an. Menurut istilah khawatim al-suwar adalah ungkapan yang menjadi penutup dari surat-surat al Qur’an yang memberi isyarat berakhirnya pembicaraan sehingga merangsang untuk mengetahui hal-hal yang dibicarakan sesudahnya.

2. Macam Khawatim Al-Suwar
Imam As Suyuthi dalam membahas khawatim al-suwar tidak begitu rinci sebagaimana menerangkan fawatihus suwar. Ia menerangkan beberapa bentuk term sebagai penutup dari surat-surat tersebut. Di situ diterangkan bahwa penutup surat diantaranya berupa : do’a, wasiat faroidl, tahmid, tahlil, nasihat-nasihat, janji dan ancaman, dll.[7]

Menurut sementara penelitian terhadap penutup surat-surat al Qur’an sedikitnya fawatihus suwar ada 18 macam[8], yaitu :
a. Penutup dengan mengagungkan Allah (At Ta’dzim) terdapat dalam 17 surat, yaitu : 1). Q.S. Al Maidah, 2). Al Anfal, 3). Al Anbiya, 4). An Nur, 5). Lukman, 6). Fathr, 7). Fushilat. 8). Al Hujurat, 9). Al Hadid, 10). Al Hasyr, 11). Al Jum’ah, 12). Al Munafiqun, 13). At Thaghabun, 14). At Thalaq, 15). Al Jin, 16). Al Mudatsir, 17). Al Qiyamah, dan 18). At tin.[9]
b. Penutupan dengan anjuran ibadah dan tasbih, terdapat dalam 6 surat, yaitu : 1). Q.S. al A’raf, 2). Hud, 3). Al Hijr, 4). At Thur, 5). An Najm, dan 6). Al ‘Alq.
c. Penutupan dengan pujian (at Tahmid).[10] Terdapat dalam 11 surat. Yakni : 1). Q.S. Al Isra, 2). An Naml, 3). Yasin, 4). As Shaff, 5). As Shafat, 6). Az Zumar, 7). Al Jatsiyah, 8). Ar Rahman, 9). Al Waqi’ah, 10). Al Haqqah, dan 11). An Nashr.
d. Penutupan dengan do’a, terdapat dalam 2 surat, yaitu : 1) Q.S. Al Mu’minun, 2). Al Baqoroh..
e. Penutupan dengan wasiat, terdapat dalam 7 surat, yaitu : 1). Ar Rum, 2). Ad Dukhan, 3). As Shaff, 4). Al A’la, 5). Al Fajr, 6). Ad Duha, 7). Al ‘Ashr.
f. Penutupan dengan perintah dan masalah taqwa, terdapat dalam Q.S. Ali Imron, An Nahl, dan Al Qomar.
g. Penutupan dengan masalah kewarisan, terdapat dalam Q.S. An Nisa.
h. Penutupan dengan janji dan ancaman, di antaranya terdapat dalam Q.S. Al Mujammil, Al Humazah, dll.
i. Penutupan dengan hiburan bagi Nabi saw., terdapat dalam Q.S. Al Kautsar, Al Kafirun, dll.
j. Penutupan dengan sifat-sifat Al Qur’an, seperti dalam Q.S. Yusuf, Q.S. Shad, dan Q.S. Al Qolam.
k. Penutupan dengan bantahan (al jadl), terdapat dalam Q.S. Ar Ra’d.
l. Penutupan dengan ketauhidan, terdapat dalam Q.S. At Taubah, Q.S. Ibrahim, Q.S. Al Kahfi, Q.S. Al Qashash, dll.
m. Penutupan dengan kisah, terdapat dalam Q.S. Maryam, at Tahrim, ‘Abasa, dan Al Fil.
n. Penutupan dengan anjuran jihad, terdapat dalam Q.S. Al Haj.
o. Penutupan dengan perincian maksud, seperti terdapat dalam Q.S. Al Fatihah, As Syu’ara, At Takwir, dll.
p. Penutupan dengan pertanyaan, seperti dalam Q.S. Al Mulk dan Al Mursalat.

C. Aqsam Al Quran
Ibnu Qoyyim dengan secara khusus mengulas masalah qosam ini dalam kitabnya, yaitu at Tibyan fi Ulumil Qur’an disitu beliau membahas secara panjang lebar hal-hal yang berhubungan dengan sumpah Allah SWT. Kedudukan Qosam dalam al Qur’an ada yang di awal surat dan ada pula selain di awal surat. Dalam makalah ini, penulis membatasi aqsam yang ada kaitannya dengan fawatihus suwar.

1. Pengertian Aqsam Al Qur’an
Aqsam adalah bentuk jama’ dari qasam yang berarti al half dan al yamin yang keduanya berarti sumpah. Qasam difenisikan sebagai “mengikat jiwa (hati) agar tidak melakukan atau melakukan sesuatu, dengan ‘suatu makna’ yang dipandang besar, agung baik secara hakiki maupun secara I’tiqadi, oleh orang yang bersumpah itu”.[11] Aqsamul Qur’an, yaitu sumpah-sumpah yang disampaikan oleh Allah SWT. untuk meyakinkan kebenaran risalah yang dibawa oleh utusan-Nya, Muhammad saw.

2. Unsur-Unsur Shighat Qasam
Yang menjadi unsur-unsur sighat qasam ada tiga, yaitu : Fi’il Qosam, Muqsam bih, dan muqsam ‘alaih.
a. Fi’il Qosam
Sighat asli qasam ialah fi’il atau kata kerja “aqsama” atau “ahlafa” yang di-muta’addi(transitif)-kan dengan “ba” untuk sampai kepada muqsam bih. Oleh karena qasam sering digunakan dalam percakapan maka ia diringkas, yaitu fi’il qasam dihilangkan dan dicukupkan dengan “ba”. Kemudian “ba” pun diganti dengan “wawu’ yang dikenal dengan “wawu” qosam. Dalam fawatihus suwar, fi’il qasam digunakan dalam dua surat saja, yaitu surat Al Balad dan surat Al Qiyamah. Dan surat-surat yang diawali dengan sumpah semuanya surat Makiyyah.

b. Muqsam Bih
Muqsam bih adalah sesuatu yang digunakan untuk bersumpah, atau alat untuk bersumpah. Allah bersumpah dengan zat-Nya yang kudus dan mempunyai sifat-sifat khusus atau dengan ayat-ayat-Nya yang memantapkan eksistensi dan sifat-sifat-Nya. Dan sumpah-Nya dengan sebagian makhluk menunjukkan bahwa makhluk itu termasuk salah satu ayat-Nya yang besar. Menurut Muhammad Ahmad Ma’bad[12], Allah SWT. bersumpah dengan makhluk-Nya atas beberapa segi :
1) Sumpah dengan membuang mudof, contoh :
ÈûüÏnG9$#ur È بمعنى ورب التين
2) Orang-orang Arab sebelum turun Al Qur’an mereka mengagumi makhluk-makhluk itu dan mereka bersumpah dengannya. Maka Qur’an turun sebagaimana yang mereka ketahui.
3) Sumpah-sumpah itu keadaannya mengagungkan yang bersumpah dan memuliakannya.

c. Muqsam ‘Alaih
Muqsam ‘alaih ialah sesuatu yang karenanya sumpah diucapkan yang dinamakan dengan jawab qosam. Menurut penelaahan Ibnu Qoyyim[13] keadaan muqsam ‘alaih adalah urusan-urusan yang ghaib dan tersembunyi. Adapun urusan-urusan yang dhahir, tidak perlu disumpahi seperti adanya matahari, bulan dan sebagainya.
Adapun hakikat yang disumpahi menurut Ibnu Qoyyim[14] ada lima hal yaitu :
1) Pokok-pokok keimanan, seperti dalam Q.S. As Shofat
ÏM»¤ÿ¯»¢Á9$#ur $yÿ¹ ÇÊÈ ÏNºt�Å_º¨“9$$sù #\�ô_y— ÇËÈ ÏM»uŠÎ=»G9$$sù #·�ø.ÏŒ ÇÌÈ ¨bÎ) ö/ä3yg»s9Î) Ó‰Ïnºuqs9
1. Demi (rombongan) yang ber shaf-shaf dengan sebenar-benarnya
2. Dan demi (rombongan) yang melarang dengan sebenar-benarnya (dari perbuatan-perbuatan maksiat),
3. Dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran,
4. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa.

2) Kebenaran Al Qur’an, seperti dalam Q.S. Ad Dukhon :
üNm ÇÊÈ É=»tGÅ6ø9$#ur ÈûüÎ7ßJø9$# ÇËÈ !$¯RÎ) çm»oYø9t“Rr& ’Îû 7's#ø‹s9 >px.t�»t6•B 4 $¯RÎ) $¨Zä. z`ƒÍ‘É‹ZãB ÇÌÈ $pkŽÏù ä-t�øÿム‘@ä. @�øBr& AOŠÅ3ym ÇÍÈ #\�øBr& ô`ÏiB !$tRωYÏã 4 $¯RÎ) $¨Zä. tû,Î#Å™ö�ãB Ç
1. Haa miim
2. Demi Kitab (Al Quran) yang menjelaskan,
3. Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.
4. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah
5. (yaitu) urusan yang besar dari sisi kami. Sesungguhnya kami adalah yang mengutus rasul-rasul,

3) Allah bersumpah bahwa Rasul itu benar, seperti dalam Q.S. Yasin :
û§ƒ ÇÊÈ Éb#uäö�à)ø9$#ur ÉO‹Å3ptø:$# ÇËÈ y7¨RÎ) z`ÏJs9 tûüÎ=y™ö�ßJø9$# ÇÌÈ 4’n?tã :ÞºuŽÅÀ 5OŠÉ)tGó¡•B ÇÍÈ Ÿ@ƒÍ”\s? Í“ƒÍ•yèø9$# ËLìÏm§�9$# ÇÎ
1. Yaa siin
2. Demi Al Quran yang penuh hikmah,
3. Sesungguhnya kamu salah seorang dari rasul-rasul,
4. (yang berada) diatas jalan yang lurus,
5. (sebagai wahyu) yang diturunkan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Penyayang,

4) Allah bersumpah bahwa balasan, janji dan ancaman itu benar akan terjadi, seperti dalam Q.S. Ad Dzariyat :
ÏM»tƒÍ‘º©%!$#ur #Yrö‘sŒ ÇÊÈ ÏM»n=ÏJ»ptø:$$sù #\�ø%Ír ÇËÈ ÏM»tƒÌ�»pgø:$$sù #ZŽô£ç„ ÇÌÈ ÏM»yJÅb¡s)ßJø9$$sù #·�øBr& ÇÍÈ $oÿ©VÎ) tbr߉tãqè? ×-ÏŠ$Ás9 ÇÎÈ ÏM»tƒÍ‘º©%!$#ur #Yrö‘sŒ ÇÊÈ ÏM»n=ÏJ»ptø:$$sù #\�ø%Ír ÇËÈ ÏM»tƒÌ�»pgø:$$sù #ZŽô£ç„ ÇÌÈ ÏM»yJÅb¡s)ßJø9$$sù #·�øBr& ÇÍÈ $oÿ©VÎ) tbr߉tãqè? ×-ÏŠ$Ás9 ÇÎÈ ¨bÎ)ur tûïÏe$!$# ÓìÏ%ºuqs9 ÇÏÈ
1. Demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat.
2. Dan awan yang mengandung hujan,
3. Dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah.
4. Dan (Malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan[1414],
5. Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar.
6. Dan Sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi.

5) Keadaan manusia, seperti Q.S. 92: 1, Q.S. 100: 1.
È@ø‹©9$#ur #sŒÎ) 4Óy´øótƒ ÇÊÈ Í‘$pk¨]9$#ur #sŒÎ) 4’©?pgrB ÇËÈ $tBur t,n=y{ t�x.©%!$# #Ós\RW{$#ur ÇÌÈ ¨bÎ) ö/ä3u‹÷èy™ 4Ó®Lt±s9 ÇÍÈ
1. Demi malam apabila menutupi (cahaya siang),
2. Dan siang apabila terang benderang,
3. Dan penciptaan laki-laki dan perempuan,
4. Sesungguhnya usaha kamu memang berbeda-beda.


3. Macam-Macam Qasam
Qasam itu adakalanya zahir (jelas, tegas) dan adakalanya mudmar (tersembunyi, tersirat).
a. Zahir
Zahir ialah sumpah yang di dalamnya disebutkan fi’il qasam dan muqsam bih. Dan di antaranya ada yang dihilangkan fi’il qasamnya, sebagaimana pada umumnya, karena dicukupkan dengan huruf jarr berupa “ba”, “wawu” dan “ta”.


b. Mudmar
Yaitu yang di dalamnya tidak dijelaskan fi’il qasam dan tidak pula muqsam bih, tetapi ia ditunjukkan oleh “lam taukid” yang masuk ke dalam jawab qosam, seperti firman Allah dalam Q.S. Ali Imron: 186
žcâqn=ö7çFs9 þ’Îû öNà6Ï9ºuqøBr& öNà6Å¡àÿRr&ur
(kamu sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu). Maksudnya, Demi Allah, kamu sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu.

4. Faedah Qosam
Al Qur’anul Karim diturunkan untuk seluruh manusia, dan manusia mempunyai sikap yang bermacam-macam terhadapnya. Di antaranya ada yang meragukan, ada yang mengingkari dan ada pula yang amat memusuhi. Karena itu dipakailah qasam dalam kalamullah, guna menghilangkan keraguan, melenyapkan kesalahpahaman, menegakkan hujjah, menguatkan kabar dan menetapkan hukum dengan cara paling sempurna.
Sebagaimana diterangkan di atas, bahwa pada fawatihus suwar terdapat qasam, karena yang dihadapi adalah orang-orang Arab Jahillyah yang notabene mereka meragukan keesaan Allah SWT. dan kebenaran Nabi Muhammad saw. Gibb mengatakan :”Pada awal Muhammad saw. menyiarkan agama, wejangan-wejangan dikeluarkan dalam gaya orakel yang ngotot, berbentuk kalimat pendek bersajak, kerap kali samar, dan kadang-kadang didahului oleh satu atau beberapa sumpah menurut adat” [15] Sementara itu mereka mengagumi ciptaan-ciptaan-Nya. Maka Allah SWT. memakai sumpah-sumpah dengan apa yang mereka kagumi.

D. Kaitan Fawatihus suwar, Khawatimus suwar dan Aqsam dengan pesan surat

Al Qur’an memang benar-benar wahyu dari Allah SWT. yang mengandung mukjizat ditinjau dari berbagai segi, termasuk dengan pembuka dan penutup surat-surat yang para ulama berusaha mengungkap rahasia-rahasia di balik itu semua.
Menurut Ahli bayan dari segi balaghah, fawatihus suwar merupakan husnul ibtida karenanya kalimat pertama merupakan kalimat yang akan mempengaruhi hati si pendengar, sebagai kesan pertama. Begitu juga dalam Khawatim, dengan penutup yang indah akan memberikan kesan yang indah yang akan membuat si pendengar penasaran ingin mendengarkan selanjutnya. Kata As Suyuthi[16] dengan sampainya pada penutup surat, pembaca sangat puas atas uraian yang telah dikemukakan oleh surat bersangkutan sehingga tidak ada perasaan heran yang tersisa.

Sebagaimana telah disebutkan bahwa di antara Fawatihus suwar adalah huruf-huruf muqoto’ah yaitu huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: alif laam miim, alif laam raa, alif laam miim shaad dan sebagainya. Di dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan : Diantara ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. Di bawah ini adalah beberapa pendapat tentang fawatihus suwar (al ahruful muqoto’ah) :
Golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, sebagaimana pendapat Abdurrhman bin Zaid bin Aslam.[17]
Golongan yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian para pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. Kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.[18]
Golongan yang berpendapat bahwa ia itu adalah nama dari nama-nama Allah Ta’ala. Pendapat ini dikemukakan oleh Salim bin Abdullah dan As Sudy yang bersumber dari Ibnu Abbas dengan menerangkan alif laam miim dengan alif (Ana) lam (Allah), mim (a’lamu).[19]
Ar Razi mengutip pendapat Abul Aliyah yang berpendapat bahwa huruf-huruf itu isyarat mengenai masa keberadaan kaum yang diterangkan dalam surat tersebut. Misalnya alif masa satu tahun lam 30 tahun dan min 40 tahun.[20]
Menurut Al Hubbi, awal surat yang berupa merupakan bentuk peringatan kepada Nabi SAW. Dikatakan bahwa Allah mengetahui bagian-bagian waktu yang nabi sebagai seorang manusia kadang sibuk. Maka dari itu Jibril menyampaikan Firman Allah seperti alif lam min dengan suara Jibril, supaya nabi menerima dan memperhatikannya.[21]

Dr. Nashr Hamid menerangkan, "apabila dikoleksi pendapat-pendapat mengenai huruf-huruf muqoto'ah maka akan mencapai tiga belas ta'wil. Dan masing-masing ulama tidak dapat memaksakan pendapatnya pada satu pendapat".[22]

Dalam Kitab Al Qowaidul Hisan fit Tafsiril Qur’an[23] disebutkan Allah SWT. menutup ayat-ayat-Nya dengan Al Asmaul Husna dengan tujuan menjelaskan bahwasanya hukum yang disebutkan dalam surat tersebut berkaitan dengan Nama-Nya. Selanjutnya di dalam kitab tersebut disebutkan kalau kita mencermati ayat-ayat yang diakhiri dengan Asmaul Husna, kita akan mendapati bahwasanya syari’at, perintah dan makhluk semuanya berasal dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, yang kita terikat dengannya.

Ada keserasian yang mendalam antara pembuka, ayat setelahnya bahkan dengan penutup surat yang bersangkutan. Sebagai contoh di dalam surat al-fatihah ada ayat yang berbunyi :
$tRω÷d$# xÞºuŽÅ_Ç9$# tLìÉ)tGó¡ßJø9$# ÇÏÈ
Artinya, “Tunjukilah Kami jalan yang lurus”.

Ayat di atas mengandung permohonan untuk memperoleh hidayah. Dalam surat al-Baqoroh, Allah SWT. Mengabulkan permohonan tersebut dengan membuka dengan tiga huruf yang terpotong-potong disambung dengan ayat keduanya yang menerangkan bahwa petunjuk yang dipinta itu adalah al-Qur’an yang tidak diragukan lagi. Selanjutnya diterangkan berbagai aturan-aturan yang harus dijalankan. Maka sebagai manusia yang lemah, maka Allah menuntun kepada kita di akhir surat al-Baqoroh itu dengan do’a, permohonan agar jangan diberi beban yang terlalu berat, agar dikuatkan dalam melaksanakannya, dan agar diberi pertolongan dalam mengemban tugas tersebut dari gangguan-gangguan orang-orang yang tidak suka petunjuk Allah tegak di muka bumi ini. Wallahu a’lam bis showab.
Selanjutnya pembahasan secara detail yang berhubungan dengan kaitan ayat dengan ayat, surat dengan surat akan dibahas pada materi Munasabah bainal ayat wal ayat ….




E. Nilai-nilai pendidikan dalam Fawatihus suwar, Khawatimus suwar dan Aqsamul qur’an
Kondisi peserta didik bermacam ditinjau dari berbagai sisi. Oleh sebab itu perlu diadakan pendekatan-pendekatan dan metode-metode yang mengantarkan peserta didik sampai pada tujuan yang ingin ia capai. Dalam Fawatihus suwar dan khawatimus suwar kita dapat menemukan formula-formula dalam metode didaktik.
Di dalam Fawatih dan Khawatim, kita dapat mempelajari bagaimana tekhnik membuka dan menutup suatu pelajaran.
Appersepsi yang berarti menafsirkan buah pikiran dikenal dalam dunia pendidikan sebagai prakondisi sebelum siswa masuk pada materi pembelajaran. Menurut Herbart[24], Appersepsi adalah memperoleh tanggapan-tanggapan baru dengan bantuan tanggapan yang telah ada. Disini terjadi asosiasi antara tanggapan yang baru dengan yang lama. Appersepsi membangkitkan minat dan perhatian untuk sesuatu.
Dalam kaitannya dengan fawatih, salah satu pendapat bahwa huruf muqoto'ah adalah membangkitkan minat orang-orang Arab untuk memperhatikan apa kelanjutan dari huruf-huruf tersebut.
Dalam Fawatih dan Khawatim terdapat model pertanyaan. Diungkapkan oleh S. Nasution, bahwa pertanyaan itu penting di sekolah dan dalam kehidupan sehari-hari. Pertanyaan, kesangsian, keragu-raguan adalah sumber aktivitas mental. Pertanyaan adalah stimulus yang mendorong anak untuk berpikir dan belajar. Selanjutnya beliau menerangkan sebelas fungsi dan tujuan pertanyaan di antaranya :
1. Membangkitkan minat untuk sesuatu, sehingga timbul keinginan untuk mempelajarinya;
2. Mengubah pendirian, kepercayaan atau prasangka yang tak sesuai.
3. …[25]

Dalam proses belajar mengajar ada komponen yang tidak kalah pentingnya yaitu evaluasi. Evaluasi yaitu tindakan atau proses untuk menentukan nilai sesuatu, atau dapat diartikan sebagai tindakan atau proses untuk menentukan nilai segala sesuatu yang ada hubungannya dengan pendidikan.[26] Salah satu contoh dari Khawatimus suwar, perhatikan akhir surat berikut :
ö@è% ÷Läê÷ƒuäu‘r& ÷bÎ) yxt6ô¹r& ö/ä.ät!$tB #Y‘öqxî `yJsù /ä3‹Ï?ù'tƒ &ä!$yJÎ/ ¤ûüÏè¨B ÇÌÉ
Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering; Maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu?".[27]

Kesimpulan dan Khatimah
Dalam pembahasan ini, setidaknya ada 3 kesimpulan yang dapat kita ambil, yaitu :
Al Qur'an memang benar-benar wahyu Allah SWT.
Dalam membuka dan menutup surat-surat, Allah SWT. Menggunakan beberapa metode yang dapat diformulasikan sebagai metode didaktik Allah kepada Nabi Muhammad dan kepada umat-Nya.

DAFTAR PUSAKA


- Al-Quranul karim
- As suyuti Jalaluddin al-Itqon Fi Ulum al-Quran,{Dar al-Fikri. Beirut}.
- Ash-Shidiqi Hasby Ulum al-Qur’an, Pustaka Rizki putra .Semarang 2002
- Ahmad Rofi’I dan Ahmad Syadali, Ulum al-Quran , {Bandung; CV Pustaka Setia, 2000}.





[1] Jalaluddin as-Suyuti, al-Itqan Fi Ulum al Qur’an,
[2] Ibid al-
[3] Lihat al-Qur’an surat: fatihah, al-an’am, al-kahfi, saba, al-fatir.
[4] Lihat al-Qur’an surat: al-furqan, dan al-mulk.
[5] Lihat al-Qur’an surat: al-Isra’ al-A’la, al-Hadid, al-Hasr, al-Shaff, al-Jumu’ah, dan al-Taqhabun.
[6]Supian dar Karman, Ulumul al-Qur’an (Bandung: Pustaka Islami, 2002), hal. 173-1744
[7] Jalaluddin As-suyuti. Al-itqan fi ulum al-Qur’an.
[8] Hasby Ash-Shidiqi, Ulum al-Qur’an, Semarang, Pustaka Rizki Putra, cet, 2002), hal. 186

[9] Ahmad Syadali dan Ahmad rofi’I, Ulumul quran, ( Bandung ; CV Pustaka Setia, 2000), hal.1955-197

1] Muhammad Chirzin, Al Qur’an dan Ulumul Qur’an (Yogya: Dana Bhakti Prima Yasa, 1998), hal. 62.
[2] Az Zarkasyi, Al Burhan fi ulumil Qur’an (CD Rom Maktabah Syamilah), Juz I hal. 164.
[3] Sebagai dikutip oleh Supiana, M.Ag dan M. Karman, M.Ag dalam Ulumul Qur’an (Bandung: Pustaka Islamika, 2002), hal. 172.
[4] Lihat As Suyuthi dalam Al Itqon fi ulumil quran ( Beirut: Darul fikr, t.t.), juz 2 hal. 105.
[5] Ibid., juz 2 hal. 106.
[6] Ibid.
[7] Ibid., juz 2 hal. 107.
[8] Supiana, ibid., hal. 178.
[9] Surat ini dapat pula dimasukkan ke dalam bentuk penutupan dengan pertanyaan.
[10] Penutupan ini tidak persis di akhir surat, tetapi pada sebelumnya.
[11] Manna’ul Qoththon, Studi Ilmu-Ilmu Al Qur’an (Bogor: Litera Antar Nusa, 1992), hal. 410.
[12] Muhammad Ahmad Ma’bad, Nafhaat min Ulumil Qur’an (Mesir: Darus Salam, 1996), hal. 97.
[13] Ibnu Qoyyim Al Jauziyah, at Tibyan fi Alsamil Qur’an (Beirut: Darul Fikr, t.t.), hal. 3.
[14] Ibid., hal. 4.
[15] Lihat Islam dalam Lintasan Sejarah oleh Sir Hamilton Alexander Rosskeen Gibb Penerbit Bhratara Karya Aksara - Jakarta 1983
[16] Muhammad bin Alawy, Zubdah al Itqon fi ulumil Qur'an (Bandung: Pustaka Setia, 1999), hal. 299.
[17] Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anil ‘Adzim (Bandung, Diponegoro, 1991), juz 1 hal. 61.
[18] Qur'an in word
[19] Ibnu Katsir, ibid.
[20] Ibid.
[21] Chirzin, ibid., hal. 63.
[22] Nashr Hamid Abu Zaid, Mafhumun Nash; dirasah fi ulumil Qur'an (Mesir: Markaz Staqofy Al Araby, 2000), hal. 194.
[23] Al Qowaidul Hisan, Juz 1 hal. 49, CD Al Maktabah As Syamilah.
[24] Dalam S. Nasution, Prof. Dr. Didaktik Asas Asas Mengajar (Jemmars Bandung, 1986), hal. 158.
[25] Ibid., hal. 162.
[26] Lihat A. Tabrani Rusyan, Drs. Dkk. Pendekatan dalam proses belajar mengajar (Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, 1994), hal. 209.
[27] Q.S. Al Mulk : 30.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar